Di puncak Arupadatu, dengarkan Sang Danyang melantunkan tembang. Karas di pangkuannya sudah dipenuhi lakon. Lalu, kepada anak manusia, disampaikanlah sebuah warita.

ॐ सर्वे भवन्तु सुखिनः
सर्वे सन्तु निरामयाः ।
सर्वे भद्राणि पश्यन्तु
मा कश्चिद्दुःखभाग्भवेत् ।
ॐ शान्तिः शान्तिः शान्तिः ॥

1: Om, May All become Happy,
2: May All be Free from Illness.
3: May All See what is Auspicious,
4: May no one Suffer.
5: Om Peace, Peace, Peace.

Mereka bilang saya terkutuk.
Seperti Ni Rangda Calonarang, sang penenung yang selama hidupnya habis berteman murka dan duka.


InformasiKeterangan
NamaDang Hyang Jirah Calon Arang
Nama AsliIda Ayu Larashinta Ratimaya Adishravaya
PanggilanArang, Dayu (Oleh Ibu)
Tanggal Lahir29 Maret 1997
Tempat LahirDenpasar, Bali
EtnisTionghoa, Bali

Om, biarkan saya memulai kisah dengan sebuah kata yang mewakili semesta.
Om, sebuah awal, penengah, dan akhir.
Om, memayungi masa lalu, masa ketika engkau hidup, serta masa depan.

ㅤ ㅤAnakku, dengarkanlah. Bapak punya sebuah kisah. Kisah tentang manusia yang berakal, berbudi, dan bermartabat. Manusia yang memiliki tempat mulia di sisi Tuhan.

ㅤ ㅤIni pula sebuah kisah tentang Sang Hyang Widhi.

ㅤ ㅤDia Yang Esa.
ㅤ ㅤDia Yang Menentukan Takdir.
ㅤ ㅤDia Sang Penguasa Tertinggi.
ㅤ ㅤDia Yang Tak Terpikirkan.

ㅤ ㅤPercayakah engkau wahai Anakku, bahwa Sang Pencipta yang tak dapat dinalar akal manusia memiliki kebaikan. Mungkin engkau akan bertanya-tanya mengapa kita menyematkan sifat yang sangat manusiawi pada-Nya.

ㅤ ㅤAkan tetapi, anak manusia ini dibangkitkan kembali oleh Yang Mahakuasa. Demi menebus dosa-dosa, kesalahan yang membuat mereka jatuh dalam api neraka.

ㅤ ㅤDahulu kala, hiduplah seorang ksatria. Gagah dan berani, bergelar Sri Rama. Wataknya tak ubah permata, sehingga dia selalu dielu-elukan oleh rakyatnya. Ya, Anakku. Dia adalah seorang Raja. Penempat tahta tertinggi, sebuah singgasana didampingi seorang Ratu yang cantik jelita, pun elok budinya.


Gathutkaca meraung-raung menangis den gan keras, rintihannya menyentuh hati.
Airmatanya mengalir, sangat banyak ditutupi dengan tangannya.
Walaupun meminjam bapak ibu, kakek nenek, saudara-saudaranya ...
Kalau mengajari yang tidak baik, tidak pantas kalau ditiru.

Dalam bahasa jawa "kumambang" yang berarti mengambang. Menggambarkan bayi manusia yang masih mengambang di perut ibunya. Watak lagu ini nelangsa lan keranta-ranta.

Dayu ; Begitulah sang ibu memanggil saat dia masih berada di dalam kandungan. Perempuan ayu keturunan Bali-Jawa tersebut selalu melantunkan kidung untuk Arang sejak masih di dalam perut.

Beliau bersuara merdu lantaran semasa hidupnya dihabiskan sebagai seorang sinden sekaligus penari tradisional. Sang Ida Ayu begitu cantik parasnya hingga kepincutlah hati seorang lelaki Tionghoa yang saat itu tengah melakukan pekerjaan di Pulau Dewata.

Dayu ; Dia selalu diingatkan bahwa dirinya seorang Ida Ayu, yang selayaknya hidup sebagai teladan bagi orang lain, seorang dengan kasta paling tinggi. Meski saat ini kasta tidak lagi merupakan hal paling penting, keluarga mereka tetap menanamkan nilai-nilai yang selama ini nenek moyang mereka percaya dan pegang teguh.

Wahai anakku ingatlah selalu, atas nasihat dariku.
Dirimu disebut juga sebagai satria, harus tenang dan baik budi pekertinya.
Sabar serta pandai atas segala hal.
Dan milikilah sifat ksatria di dalam batin, namun jangan diperlihatkan.
Rahasiakan jika belum sampai pada masanya, atas keberaniannya jangan sampai dihilangkan.
Tatalah dalam batinmu, agar menjadi samar dan semu.

Dalam bahasa jawa "mijil, mbrojol, mencolot" yang berarti muncul atau keluar. Menggambarkan kelahiran bayi. Watak lagu ini asih lan tresna.

DENPASAR, BALI
29 Maret 1997

Sang Dayu lahir, begitu rupawan hingga orang-orang mengatakan bahwa dia begitu disayangi oleh Dewata. Parasnya mengingatkan mereka pada Dewi Shinta. Hingga akhirnya dia diberi nama Larashinta Ratimaya Adishravaya, dengan Ida Ayu sebagai identitas atas siapa dirinya.

Jadilah Shinta yang bijaksana, yang lembut hatinya. Semua pengharapan tersebut diberikan untuk si kecil yang baru lahir ke dunia.

Namun, tidak seindah apa yang diharapkan, bayi kecil tersebut sangat sering jatuh sakit. Mereka bilang, dia keberatan nama. Konyol memang kedengarannya. Akan tetapi, bagi orang-orang yang mempercayai hal tersebut, bukanlah mustahil hal itu terjadi.

Sang ibu yang begitu sedih hatinya kemudian pergi ke sebuah sanggar pemujaan untuk meminta petunjuk pada Dewata. Aroma dupa mengelilingi tempat sembahyang tersebut, disertai helai-helai bunga kamboja yang digunakan untuk memuja Sang Brahma. Semalam suntuk, wanita tersebut memberikan persembahan pada Dewa berupa tarian dan nyanyian.
Esok harinya, dia pulang dan memutuskan sebuah nama:
Dang Hyang Jirah Calon Arang.

Keluarga mereka jelas menentang, bagaimana mungkin merangkai Dang Hyang dengan nama Si Calon Arang. Dang Hyang (atau Danyang) sendiri adalah sosok penunggu sebuah tempat, roh yang menjadi jiwa dari suatu tempat seperti hutan, sungai, perbukitan, dan sebagainya. Mereka adalah sosok-sosok bijak lan mituani (dianggap sebagai sesuatu yang bijak) dan menjaga alam yang dititipkan oleh Tuhan.

Nama Jirah sendiri membawa kebingungan. Beberapa orang menggunakan istilah tersebut untuk menyebut batu nisan, akan tetapi sang ibu mengambilnya dari sebuah kata yang bermakna bahwa Tuhan akan selalu menjaga putrinya.

Meski demikian, dipilihnya nama Calon Arang menjadi masalah terbesar. Ni Rangda Calon Arang; sang penenung yang dalam mitos begitu ditakuti karena memiliki ilmu ngeleak begitu tinggi. Pun keputusannya untuk menurunkan petaka bagi orang-orang di desanya membuat Calon Arang begitu ditakuti dan selalu dikaitkan dengan gelapnya ilmu hitam bahkan hingga saat ini.

Akan tetapi, dengan ijin dari sang suami, nama putri mereka akhirnya diganti. Ajaibnya, hanya selang dua minggu, Shinta yang kemudian dipanggil dengan Arang justru sembuh sepenuhnya.

"Jika diteruskan, anak itu akan membawa sial."

Itu yang orang-orang katakan tentang Arang dan nama yang dibawanya. Entah kehendak Dewata untuk bermain-main dengan manusia biasa seperti mereka atau bagaimana, Di umurnya yang ketiga, usaha ayahnya bangkrut hingga beliau tertekan dan sakit keras. Dengan terpaksa, lantaran tidak mampu membiayai buah hati mereka, dua orang kakak lelaki Arang diadopsi oleh saudara jauh yang kebetulan tidak memiliki putra.
Namun, seolah belum cukup, saat menginjak umur 4 tahun, Arang harus kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan dalam sebuah kecelakaan. Terlilit begitu banyak hutang, rumah mereka pun sudah hilang. Bibi yang seharusnya merawat Arang pun tidak mau mendapatkan petaka yang sama dari si gadis yang dianggap membawa sial.

Begitulah, akhirnya Calon Arang berakhir di sebuah panti asuhan.
Di sanalah dia memulai kehidupan sebagai seorang penari. Dia sering mengunjungi sanggar yang berada di dekat panti dan berbincang dengan mereka; seniman-seniman hebat yang sebenarnya tidak begitu diperhitungkan selayaknya orang terpinggir.

Saat itulah hatinya menangis, dia dalang sang pujangga, diliputi hati yang sedih.
Mendapat hinaan dan malu akibat perbuatan seseorang, semula orang tersebut memberi harapan.
Menghiu hatinya, mempunyai keinginan untuk memperoleh sesuatu.
Sehingga sang pujangga karena terlalu gembira tidak waspada.

Dalam bahasa jawa "kanoman" yang berarti muda atau usia muda. Menggambarkan cerita masa muda yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan dan mencari ilmu untuk mewujudkannya. Watak lagu ini grapyak lan renyah.

Tahun-tahun berlalu hingga akhirnya Arang diadopsi oleh seseorang saat umurnya menginjak 7 tahun. Dia kemudian dibawa ke Surabaya dan tinggal bersama orang tua baru yang begitu menyayanginya. Setidaknya hingga umur 13 tahun. Ketika pasangan suami istri tersebut telah menyerah untuk memiliki buah hati, justru mereka diberi anugerah.

Dalam sekejap dunia Arang berubah dengan lahirnya seorang adik. Dia bukan lagi siapa-siapa di rumah itu. Tidak dianggap anak, tidak dianggap ada. Namun ... bukankah dia seharusnya berbahagia? Orang tuanya--tidak--suami istri itu, mereka akhirnya mendapat apa yang diinginkan. Masih beruntung mereka bersedia menyekolahkan Arang di sekolah yang bagus, membiayai hidupnya, tidak membiarkannya kelaparan.

Bertahan dan terus hidup, itulah yang ada di benak Arang.
Berlanjut saat dia akhirnya lulus SMP, pasangan suami istri tersebut akhirnya mengutarakan apa yang selama ini mereka pendam. Mereka hanya ingin tinggal bertiga bersama buah hati mereka sendiri.

Tidak apa. Karena sejak awal, rumah tersebut memang bukan haknya.
Demi tidak menelantarkan Arang begitu saja, gadis tersebut dibawa ke Jakarta dan dititipkan pada saudara mereka. Awalnya, Arang berpikir bahwa dia tetap bisa bertahan. Di sana dia disekolahkan meski bukan di SMA terbaik. Lalu sepulang sekolah dia membantu bekerja di rumah makan milik keluarga tersebut. Sayang, duka enggan pergi dari kehidupannya. Berkali-kali si kepala keluarga berusaha melecehkannya pada setiap kesempatan. Lalu, saat dia hampir disetubuhi, lelaki tersebut tertangkap basah.

Namun, dunia selalu tidak adil pada perempuan, bukan?

Mereka bilang, Arang yang menggoda dan berusaha memberikan tubuhnya demi diberi uang lebih. Sudah dipermalukan, dia diusir dari rumah tersebut.

Dibarengi dengan penghibur cinta, hiasannya perawan kencur.
Belum bisa makan kinang, mengenakan kain panjang dan pantas.
Apalagi nanti kalau dewasa, bumi langit akan bergerak.

Dalam bahasa jawa "kanthi" yang berarti tuntunan atau dituntun untuk menggapai masa depan. Menggambarkan masa di mana manusia membentuk jatidiri dan meniti jalan menuju cita-cita.

Saat tengah hilang arah dan tidak tahu ke mana akan pergi, Arang bertemu dengan seorang perempuan bernama Kinanthi. Ibu dari Mbak Kinan (begitu dia memanggilnya) memiliki sebuah panti asuhan, sementara Mbak Kinan sendiri adalah seorang penari. Perempuan ayu tersebut mendengarkan kisahnya tanpa menyela, bahkan langsung memeluk Arang begitu selesai bercerita.

Lantas, sejak hari itu, dia kemudian hidup bersama Mbak Kinan. Namun, segala yang terjadi pada Arang telah mengubah beberapa hal tentang dirinya. Terutama tentang pendiriannya dalam menjalani hidup. Jika selama ini Arang hanya ingin bertahan, maka mulai hari itu dia ingin mencapai hal yang lebih besar, ada sebuah ambisi yang tumbuh, yang membuat Arang berhenti menjadi orang lemah yang tak bisa berbuat apa-apa.

Ambisinya tersebut yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang model di sebuah agensi yang disebut Belle Model Management.
Pertengahan tahun 2018, Arang bertemu dengan CEO dari BMM yang kemudian memberikan beberapa penawaran baginya. Uang, rumah, segala fasilitas akan dipenuhi jika Arang bersedia bekerja sepenuhnya pada lelaki tersebut.

Kalian boleh mengatakan Arang tolol atau naif karena menerima tawaran tersebut. Dia menganggapnya sebagai sebuah pengorbanan, dengan bekerja sebagai hostess sekaligus escort, dia dapat mengumpulkan uang lebih banyak untuk bisa lepas dari kehidupan yang menginjak-injak orang sepertinya. Terlebih lagi, dia dibiayai untuk berkuliah di sebuah universitas elite, St. Isidore University.